Selamat Datang di BLOGERNYA Orang “ KampoenK ”

Selasa, 18 Desember 2012

KEPERCAYAAN, RITUAL DAN PANDANGAN HIDUP ORANG JAWA




Jangan melupakan bagian dari negara kesatuan republik indonesia yang menyimpan banyak hal menarik. Hingga banyak peneliti terkemuka berupaya mengetahui sejarah dan budaya yang ada. Contoh saja suku jawa dan segala peradaban yang berkembang di dalamnya. Namun aneh, jika seseorang yang mengaku dirinya orang jawa merasa “pekewuh” jika dijadikan objek penelitian. Ada beberapa alasan yang mendasar, mengapa kita perlu mengetahui budaya jawa.
Pertama, seperti modern ini yaitu keterasingan masyarakat jawa terhadap nilai-nilai yang ada pada jawa itu sendiri. Tidak wajar jika kita tahu tentang dunia yang luas ini dengan segala hiruk-pikuknya namun kita melupakan kearifan dan kehalusan jawa.
Kedua, lebih bersifat teoritis, etika falsafi masa kini hampir secara eksklusif dikembangkan pada latar belakang penghayatan moral, bukan penghayatan pada suatu sistem dari yang cukup berbeda akan dapat membantu memecahkan masalah pada masa sekarang.
Kepercayaan dan pandangan hidup orang jawa, merupakan sebuah tema menarik yang perlu dikaji karena memuat banyak hal yang kurang diperhatikan akan tetapi nilai pandangan hidup ini dianggap sebagai kebudayaan asing yang kita adopsi dari agama, suku atau bahkan bangsa lain.
Dalam masyarakat jawa umumnya ada juga kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan terutama pada masyarakat islam khususnya. Hal ini tidak lepas dari peran agama yang di anut oleh masyarakat jawa itu sendiri, tradisi-tradisi itu di pertahankan karena sudah terinternalisasi dari nenek moyang pada jaman dahulu ketika ajaran islam belum masuk.
Membahas mengenai kepercayaan orang jawa sangatlah luas dan meliputi berbagai aspek yang bersifat magic atau ghaib yang jauh dari jangkauan kekuatan dan kekuasaan mereka     http://www.primbon.com/  . Masyarakat jawa jauh sebelum agama-agama masuk, mereka sudah meyakini adanya tuhan yang maha esa dengan berbagai sebutan diantaranya adalah “gusti kang murbeng dumadi” atau tuhan yang maha kuasa yang dalam seluruh proses kehidupan orang jawa pada waktu itu  selalu berorientasi pada tuhan yang maha esa. Jadi, orang jawa telah mengenal  dan mengakui adanya tuhan jauh sebelum agama masuk ke jawa ribuan tahun yang lalu dan sudah menjadi tradisi sampai saat ini yaitu agama kejawen yang merupakan tatanan “pugaraning urip” atau tatanan hidup berdasarkan pada budi pekerti yang luhur.

Keyakinan terhadap tuhan yang maha esa pada tradisi jawa diwujudkan berdasarkan pada sesuatu yang nyata, riil atau kesunyatan yang kemudian direalisasikan pada tata cara hidup dan aturan positif dalam kehidupan masyarakat jawa, agar hidup selalu berlangsung dengan baik dan bertanggung jawab
Masyarakat jawa dengan segala pandangan hidupnya memiliki karakteristik budaya yang khas, sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pada garis besarnya pandangan hidup orang jawa dapat dibedakan menjadi du bagian yaitu pandangan lahir dan pandangan batin. Pandangan lahir terkait dengan kedudukan seseorang sebagai makhluk individu dan sosial, sedangkan pandangan batin berkaitan dengan kedudukan seseorang sebagai makhluk individu dan sosial. Dalam hal ini pandangan jawa memiliki kaidah-kaidah yang di identifikasikan berdasarkan ungkapan-ungkapan budaya sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung oleh masyarakatnya. Sebaliknya, pandangan batin terkait dengan persoalan-persoalan yang bersifat supranatural   http://www.primbon.com/ramalan_weton.htm       akan tetapi menduduki tempat yang penting dalam sistem budaya jawa.
Terdapat system yang menuntut untuk meminimalisasi kepentingan-kepentingan yang bersifat individu, hal tersebut didasarkan pada semangat komunal akan tetapi secara individu, seseorang di tuntut untuk memiliki kepercayaan yang kuat serta tekad dalam memperjuangkan hidup (jujur da nerimo). Ungkapan diatas merupakan kristalisasi atau bahan untuk membaca semangat hidup agar mampu menempatkan diri sebagai individu guna menjaga keberadaan kehidupan.
Secara sosial, http://www.primbon.com/mimpi.htm   orang jawa memiliki orientasi utama  dengan menciptakan sikap yang mulia terhadap orang lain. Untuk menciptakan hal tersebut banyak orang jawa yang menghindari sikap adigang adigung, adiguna sre dengki, panas elen, wedi isin, eling lan waspodo, serta menciptakan hubungan sosial yang harmoni. Dalam hal ini melibatkan norma social seperti rukun. Tepo sliro, jujur, andap ashor dan sebagainya.
Sebenarnya tujuan serta pandangan orang jawa itu sama, yaitu untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin bagi anggotanya. Kebahagiaan tersebut diwujudkan sebagai hidup sejahtera, cukup sandang pandang, tempat tinggal aman dan tenteram. Hubungan masyarakat jawa adalah pengejawantahan yang lebih lanjut dari manusia didalam keluarga. Sedangkan hubungan dikeluarganya adalah pengejawantahan dari hubungan manusia sebagai pribadi dan orang lain.






Jumat, 07 Desember 2012

MACAM TARIAN JAWA TIMUR


Tari Remo

           Tari Remo berasal dari Malang, Jawa Timu.Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.
Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.
Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.

Tari Reog Ponorogo


Cerita reog yang terkandung di dalam reog ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Maka terciptalah reog ponorogo. Gerakan-gerakan dalam tari reog ponorogo menggambarkan tingkah polah manusia dalam perjalanan hidup mulai lahir, hidup, hingga mati.
Komponen Penari dalam Reog
Ada 5 komponen penari dalam tari Reog Ponorogo, yaitu: 1. Prabu Kelono Sewandono 2. Patih Bujangganong 3. Jathil 4. Warok 5. Pembarong
1. Prabu Kelono Sewandono Prabu Kelono Sewandono ini adalah tokoh utama dalam tari Reog Ponorogo. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang gagah berani dan bijaksana, digambarkan sebagai manusia dengan sayap dan topeng merah. Beliau memiliki senjata pamungkas yang disebut Pecut Samandiman.
2. Patih Bujangganong Patih bujangganong adalah patih dari Prabu Kelono Sewandono, merupakan tokoh protagonis dalam tarian ini.
3. Jathil Jathil atau Jathilan adalah sepasukan prajurit wanita berkuda cantik dan berani
4. Warok Warok adalah pasukan Kelono Sewandono yang digambarkan sebagai orang yang sakti mandraguna dan kebal terhadap senjata tajam. Penari warok adalah pria dan umumnya berbadan besar.
5. Pembarong Pembarong adalah penari yang memiliki peranan paling penting dalam tari Reog Ponorogo.



Tari Jejer Gandrung



Tari jejer gandrung merupakan salah satu kebudayaan tradisional yang ada di daerah Kabupaten Banyuwangi. Jejer Gandrung itu sendiri berasal dari bahasa osing (bahasa asli banyuwangi) yang artinya “Jejer” adalah ditampilkan dan “Gandrung” adalah senang. Jadi tari  jejer gandrung adalah tari yang ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau undangan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Tari jejer gandrung berasal di daerah Kemiren yaitu didaerah kaki gunung Ijen. Tari ini dimainkan oleh beberapa remaja putri dengan serasi, elok dan menawan. 


Tari Kethek OglenG


Tari Kethek Ogleng  berasal dari Kediri sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Tari ini mengalami masa puncak pada era 70-an. Tari Kethek Ogleng sangat familiar di masyarakat . Tak hanya tampil di acara-acara budaya atau resepsi resmi. Tapi banyak juga seniman yang mengamen berkeliling kampung, memeragakan tari tersebut.Membawakan tari Kethek Ogleng tidaklah mudah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari kostum dan perangkat gamelan. Itulah yang menyebabkan tidak banyak orang yang bisa melakukannya. “Gerakan tarinya juga cukup rumit,”   Kethek Ogleng merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih berkembang dengan bentuk yang beragam di kabupaten wonogiri jawa tengah. kisahnya menceritakan seekor kera jelmaan raden gunung sari dalam cerita panji dalam upaya mencari dewi sekartaji yang menghilang dari istana.untuk mengelabuhi penduduk agar bebas keluar masuk desa dan hutan,maka raden gunung sari menjelma jadi seekorkera putih yang lincah dan lucu.
Tari Kethek Ogleng ini dalam mengekspresikannya menggambarkan gerak-gerik
sekelompok kera putih.dalam tarian ini terlintas ungkapan
kelincahan,kebersamaan,semangat,kelucuan dan atraktif.Iringannya menggunakan instrumen gamelan jawa,alat perkusi tradisional dan penggaran olah vokal yang tetap menghadirkan rasa dan nuansa kerakyatan.


Seni Tari Jaran Dor (jombang)
Yakni seni tari yang menggunakan alat Bantu berupa Kuda-kudaan yang terbuat dari sesek bamboo ini sebenarnya sama dengan kesenian kuda lumping pada umumnya.
Namun yang sedikit membedakan adalah Seni Tari Jaran Dor ini terkesan apa adanya dan gerak para penarinya pun tidak seperti jaranan lain. merupakan perpaduan antara kesenian bela diri pencak silat, mungkin pada waktu itu yang memainkan Seni Tari Jaran Dor tersebut banyak sekali dari para pendekar-pendekar pencak silat, Sehingga sangat mempengaruhi pergerakan Jaran Dor itu sendiri. sementara kalau jaranan atau seni tari kuda lumping yang biasa kita lihat itu terkesan lebih terkonsep seperti penari kuda lumping semboyo atau kita biasa menyebutnya jaranan semboyoan.
Dan dari segi pakainyapun seni tari jaran dor juga berbeda dengan kuda lumping biasanya, yakni kalau Seni Tari Jaran Dor cukup menggunakan berkaos belang horisontal warna merah putih atau merah hitam, dilapisi baju warna hitam lengan panjang, celana pendek berpleret merah, berkopyah dengan sarung diikatkan pinggang tanpa adanya embel-embel kerincingan layaknya jaran atau kuda lumping samboyoan.








TARIAN DARI KALIMANTAN


Tari Baksa Kembang
Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton dengan Gerakanya halus, diiringi irama gamelan, busana generlapan.
Tari ini memvisualisasikan seorang puteri sdang memetik bunga di taman. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar.
Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran. Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional.


Tari Radap Rahayu
Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan. Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ Bantam” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “ Radap Rahayu “ ( anonim ). Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkawinan, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan . Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “Tapung Tawar”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam. Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu

Tari Zapin


Zapin berasal dari bahasa arab yaitu "Zafn" yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikut rentak pukulan. Zapin merupakan khazanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari ArabTarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan.
Musik pengiringnya terdiri dari dua alat yang utama yaitu alat musik petik gambus dan tiga buah alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.
Tari Zapin sangat banyak ragam gerak tarinya, walaupun pada dasarnya gerak dasar zapin-nya sama, ditarikan oleh rakyat di pesisir timur dan barat SumateraSemenanjung MalaysiaSarawakKepulauan Riau, pesisir Kalimantan dan Brunei Darussalam.



Tari Manasai
Tari ini merupakan tari yang melambangkan kegembiraan. Tari ini biasanya juga diadakan untuk menyambut tamu-tamu pemerintahan yang ke sana. Intinya tarian “selamat datang” untuk tamu-tamu yang berkunjung ke Kalimantan. Tari ini juga biasanya dipentaskan pada acara festival budaya Isen Mulang yaitu acara tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan dibantu oleh dinas pariwisata dan dinas-dinas yang terkait, tujuannya adalah menarik minat wisatawan untuk berkunjung serta memperkenalkan dan melestarikan budaya daerah sehingga masyarakat luar juga mengetahui budaya dari daerah lain. Hal tersebut akan memperkaya budaya nasional bangsa kita.

Tari Pinggan
Tari Pinggan adalah sebuah tarian tunggal tradisional Dayak yang di sajikan untuk menghibur masyarakat dalam setiap acara tradisional. Misalnya: Gawai Dayak ( pesta Panen padi ), Gawai Belaki Bini ( pesta pernikahan ) dll.
Tari Pinggan Terbagi menjadi dua, yakni : Tari Pinggan Laki dan Tari Pinggan Indu’ yang masing -masing ada kesamaan dan pebedaan. Tari ini lebih menekankan pada gerakan – gerakan atraktif yang diadopsi dari gerakan silat tradisional. Dalam melakukan gerakan tari, penari membawa dua buah Pinggan ( di zaman dahulu menggunakan piring batu, kini di ganti piring beling berwarna putih ), dan sepasangcincin yang terbuat dari timah ataupun tembaga seukuran Cincin jari tengah penari.
Kedua pinggan tersebut diangkat dan di tarikan sesuai dengan tebah atau iringanmusik tradisional yang di sebut tebah Undup Biasa. Sedangkan kedua cincin timah yang di gunakan penari, di hentakan ke buntut Pinggan untuk saling mengisi dengan iringan tarinya.
Penyebaran Tari Pinggan, meliputi daerah Belitang Hulu, Belitang Tengah maupun Belitang Hilir bahkan kini mulai merambah ke suku – suku Dayak sekitarnya yakni Ketungau, Bugau maupun Iban.

Tari Kanjar di Kalimantan Selatan
Tari Kanjar merupakan tarian ritual pada upacara religi suku (Hindu Kaharingan) dari suku Dayak Bukit. Tari Kanjar (ba-kanjar) pada suku Bukit dilakukan oleh penari lelaki, sedangkan tarian serupa jika ditarikan penari wanita disebut tari babangsai. Wujud tarian ini berupa gerakan berputar-putar mengelilingi suatu poros berupa altartempat meletakan sesaji (korban). Jadi mirip dengan tarian upacara ritual pada sukuDayak rumpun Ot Danum lainnya, misalnya pada suku Dayak Benuaq di Kalimantan Timur.



Tari Hudoq adalah bagian ritual suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, yang biasa dilakukan setiap selesai manugal atau menanam padi, pada bulan September – Oktober. Semua gerakannya, konon dipercaya turun dari kahyangan. 

Berdasarkan kepercayaan suku Dayak Bahau dan Dayak Modang, Tari Hudoq ini digelar untuk mengenang jasa para leluhur mereka yang berada di alam nirwana. Mereka meyakini di saat musim tanam tiba roh-roh nenek moyang akan selalu berada di sekeliling mereka untuk membimbing dan mengawasi anak cucunya. Leluhur mereka ini berasal dari Asung Luhung atau Ibu Besar yang diturunkan dari langit di kawasan hulu Sungai Mahakam Apo Kayan. Asung Luhung memiliki kemampuan setingkat dewa yang bisa memanggil roh baik maupun roh jahat.

Kamis, 29 November 2012

CRITO WAYANG BOSO JOWO


Bathari Durga Panguwasa Kabeh Setan Priprayangan

Bathari Durga iku mula bukane duwe jeneng Dewi Pramuni kang sulistya ing rupa. Dewi Pramuni mendhem rasa tresna marang panguwasa tribuwana, yaiku Bathara Guru. Kanggo nggayuh ketemune rasa tresnane marang Bathara Guru, sawijining dina Dewi Pramuni tapa brata. Sawise nemoni maneka rupa pacoban lan godhan, wusanane katekan Bathara Guru, Dewi Umayi lan Bathara Kala. Ing wawanrembug antarane Bathara Guru lan Dewi Pramuni, adhedhasar andharan ing Kitab Purwacarita, kaya kang kapethik ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, Bathara Guru gelem nyembadani pepenginane Dewi Pramuni kang pengin dadi prameswarine. Ananging ora kabul sakabehe, amarga mung tata lair wae sing bisa dadi prameswarine Bathara Guru. Dene jiwane ora bisa dadi prameswarine panguwasa tribuwana iku.

Amarga kasektene Bathara Guru, Dewi Umayi lan Dewi Pramuni banjur ijolan raga. Jiwane Dewi Umayi manjing ing ragane Dewi Pramuni, lan suwalike jiwane Dewi Pramuni manjing ing ragane Dewi Umayi kang arupa raseksi. Adhedhasar andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, Dewi Pramuni (jiwane Dewi Pramuni kang manjing ing ragane raseksi Dewi Umayi sabanjure antuk jejuluk Bathari Durga kang tegese kuciwa, ala, ora nyenengake. Lan sabanjure Dewi Durga dipacangake kalawan Bathara Kala.

Lan wiwit wektu iku, Bathari Durga disembah dening para kang ngrasuk agama Durga. Bathari Durga katetepake dumunung ing kayangan Krendayana. Kayangan iku sabanjure kondhang sinebut pasetran Gandamayit/Ganda Umayi. Bathari Durga antuk jejibahan nguwasani para gandarwa, setan lan titah datan kasat mata liyane kang asipat durangkara. Ing jagad pewayangan, wandane Bathari Durga iku arupa Rangkung. Dene Dewi Umayi (jiwane Dewi Umayi kang manjing ing ragane Dewi Pramuni) iku watake sabar, rasa pangrasane alus sarta landhep, adil, wani mbelani bebener, tanggung jawab, bekti mring sisihane lan gemati marang anak turune. Ing lakon carangan Sudamala, Bathari Durga antuk ruwat lan bisa luwar saka wujud raseksine dening Sahadewa. Bathari Durga sabanjure palakrama kalawan Bathara Kala lan peputra Dewasrani. Ing jagad pedhalangan, Dewasrani iku putrane Bathari Durga lan Bathara Guru. Bathari Durga duwe hak paring bebana marang sapa wae kang nyembah dheweke.

Ing lakon Sumbadra Larung, Bathari Durga paring pangestu marang pepenginane Burisrawa kanggo nresnani Dewi Sumbadra. Ing lakon Pancawala Lena, Bathari Durga mbiyantu Leksmana Mandrakumara, pangeran pati ing Astina, lan paring pangestu marang pepenginane Leksmana kang arep nglamar Dewi Pergiwati, putrane putri Arjuna. Dene ing lakon Wahyu Cakraningrat, Bathari Durga paring bebana marang Samba, putrane Sri Kresna, lan paring pangestu mring gegayuhane kanggo ngrebut Wahyu Cakraningrat. Sapa kang kasil ngrengkuh Wahyu Cakraningrat pinitaya bakal dadi raja gung binathara.

Ananging ing telung kedadeyan iku, kabeh ora ana kang bisa kasembadan pepenginane. Kabeh gegayuhane para satriya ing telu kedadeyan iku padha cabar. Iku amarga pepesthen tumrap sipat jiwane kang adoh saka sing dipengini. Bathari Durga dadi sesembahane para kang nganut agama Durga kang duwe aturan lan paugeran dhewe. Miturut Pustaka Raja Purwa kaya kang kapethik ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, cacahe agama kang nyembah dewa karana Bathari Durga dadi ana wolu.

Kawolune yaiku agama Syiwa (nyembah Sanghyang Syiwa/Bathara Guru), agama Sambo (nyembah Sanghyang Sambo), agama Brahma (nyembah Sanghyang Brahma), agama Indra (nyembah Sanghyang Indra). Sabanjure, agama Bayu (nyembah Sanghyang Bayu), agama Wisnu (nyembah Sanghyang Wisnu), agama Kala (nyembah Sanghyang Kala) lan agama Durga (nyembah Sanghyang Bathari Durga)
 Sawise iku Bathari Supraba bali ing wujud asline, Resi Mintaraga, lan banjur menthang gandhewa panah Pasopati. Resi Mintaraga njaluk supaya Niwatakawaca mbalekake Bathari Supraba. Nanging Niwatakawaca panggah ngukuhi kekarepane ngrabi Bathari Supraba.

Wusana Resi Mintaraga ngenerake panah Pasopati ing telake Niwatakawaca. Lan bebarengan kalawan iku, Resi Mintaraga kasil maca rajah mantar aji Gineng Sokaweda ing telake Niwatakawaca iku. Niwatakawaca mati sawise toh ing telake kena panah Pasopati. Dene Resi Mintaraga antuk ilmu kasekten anyar, yaiku aji Gineng Sokaweda. Hyang Manikmaya banjur ngangkat Resi Mintaraga dadi rajane kabeh widadari ing Tinjomaya jejuluk Prabu Kiritin.

CRITO WAYANG BOSO JOWO


Begawan Ciptaning rajane kabeh widadari ing Tinjomaya

Begawan Ciptaning utawa Resi Mintaraga iku jenenge Arjuna nalika mbangun tapa ing guwa Witaraga ing ereng-erenge Gunung Indrakila. Bebarengan kalawan iku ing Suralaya dumadi dredah amarga pangamuke raja raseksa Prabu Niwatakawaca saka krajan Himahimantaka. Para dewa ing Suralaya ora ana kang kuwawa ngadhepi kridhane Prabu Niwatakawaca sakwadyabalane. Sanghyang Manikmaya banjur ngutus para dewa supaya nemoni Begawan Ciptaning. Miturut Hyang Manikmaya pancen mung Begawan Ciptaning sing duwe daya kanggo ngadhepi kridhane Prabu Niwatakawaca. Ananging para dewa sing diutus supaya nemoni Begawan Ciptaning ora ana kang kasil njugarake tapane.

Mangkono uga para widadari kang uga diutus supaya nemoni Begawan Ciptaning ora ana kang kasil njugarake tapane. Para widadari sing diutus ana sing malih rupa kayadene sisihane Arjuna ing arcapada, nanging uga ora kasil njugarake tapane. Wusana Hyang Manikmaya ngutus Bathara Indra lan Bathara Brahma supaya njugarake tapane Begawan Ciptaning. Kekarone uga diutus Hyang Manikmaya supaya maringake kanugrahan marang Begawan Ciptaning awujud panah Pasopati.

Dhawuhe Hyang Manikmaya supaya Begawan Ciptaning nggunakake panah sekti iku kanggo ngadhepi pangamuke Prabu Niwatakawaca ing Suralaya. Bathara Indra lan Bathara Brahma banjur malih rupa dadi Prabu Kilatawarna lan Prabu Kilatarupa. Kekarone banjur nemoni Prabu Niwatakawaca lan aweh katrangan yen Prabu Niwatakawaca bakal kasil ngrabi Bathari Supraba yen wus antuk pangestu saka pandhita sekti mandraguna sing jenenge Begawan Ciptaning kang dumunung ing Gunung Indrakila.

Prabu Niwatakawaca banjur ngutus Ditya Mamangmurka supaya nemoni Begawan Ciptaning lan njalukake pangestune marang karepe bakal ngrabi Bathari Supraba. Ditya Mamangmurka banjur mangkat tumuju Gunung Indrakila. Nanging satekane Gunung Indrakila, raseksa sing diprecaya banget dening Prabu Niwatakawaca iku ora kasil nemokake papan mertapane Begawan Ciptaning utawa Resi Mintaraga. Wusana Ditya Mamangmurka dadi nesu lang ngamuk, ngrusak samubarang sing ditemoni ing ereng-erenge Gunung Indrakila.

Begawan Ciptaning kang meruhi pangamuke Mamangmurka banjur nyepatani raseksa iku, wusana Mamangmurka malih dadi babi. Babi daden-dadene Mamangmurka saka daya kasektene Resi Mintaraga iku banjur dipanah. Nanging ana panah loro sing ngenani awake babi daden-daden iku. Siji panahe Resi Mintaraga lan sijine maneh panahe Prabu Kilatawarna sing wektu iku nembe mbebedhag ing ereng-erenge Gunung Indrakila.

Kekarone banjur rebutan babi iku. Amarga padha sektine, Kilatawarna lan Mintaraga banjur adu kasekten, perang rame banget. Sawise sauntara wektu, Prabu Kilatawarna lan Prabu Kilatarupa banjur malih marang wujud asline, Bathara Indra lan Bathara Brahma. Kekarone uga banjur maringake kanugrahan panah Pasopati peparinge Hyang Manikmaya. Arjuna sing wus wudhar tapane iku banjur diboyong dening Hyang Indra lan Hyang Brahma tumuju Suralaya. Ing Suralaya, Resi Mintaraga banjur ngatur krenah kanggo ngadhepi pangamuke Prabu Niwatakawaca.

Resi Mintaraga banjur malih rupa dadi Bathari Supraba lan banjur nemoni Niwatakawaca. Amarga krenahe Resi Mintaraga iku Niwatakawaca keladuk njlentrehake pangapesane, yaiku ing telake kang wujud toh utawa rajah mantra aji Gineng Sokaweda. Sawise iku Bathari Supraba bali ing wujud asline, Resi Mintaraga, lan banjur menthang gandhewa panah Pasopati. Resi Mintaraga njaluk supaya Niwatakawaca mbalekake Bathari Supraba. Nanging Niwatakawaca panggah ngukuhi kekarepane ngrabi Bathari Supraba.

Wusana Resi Mintaraga ngenerake panah Pasopati ing telake Niwatakawaca. Lan bebarengan kalawan iku, Resi Mintaraga kasil maca rajah mantar aji Gineng Sokaweda ing telake Niwatakawaca iku. Niwatakawaca mati sawise toh ing telake kena panah Pasopati. Dene Resi Mintaraga antuk ilmu kasekten anyar, yaiku aji Gineng Sokaweda. Hyang Manikmaya banjur ngangkat Resi Mintaraga dadi rajane kabeh widadari ing Tinjomaya jejuluk Prabu Kiritin.

CRITO WAYANG BOSO JOWO


Brajadenta nyawiji kalawan ragane Gathotkaca


Brajadenta iku anake nomer telu Prabu Arimbaka. Dadi Brajadenta iku ora liya adhine Prabu Arimba lan Dewi Arimbi saka Pringgadani. Tembung Brajadenta ateges sanjata saka gadhing. Brajadenta kerep makili Dewi Arimbi mimpin krajan Pringgadani, amarga mbakyune sing nglenggahi jejering ratu iku kerep dedunung ing Jodhipati ngampingi sisihane, Bima utawa Werkudara. Dewi Arimbi dhewe yaiku anake Prabu Arimbaka, raja nagara Pringgadani. Saksurute Prabu Arimba, dheweke nglintir kalungguhan nata ing Pringgadani.

Gumantine raja ing Pringgadani iku ditemtokake tumrap pangeran pati miturut sarasilah kulawarga sing tuwa dhewe. Amarga kuwajibane dadi prameswarine Bima, mula Dewi Arimbi kerep ngampingi Bima ing Jodhipati lan masrahake panguwasane krajan Pringgadani marang Brajadenta. Dewi Arimbi duwe kasekten bisa njilma saka wujud asline raseksa dadi putri sing sulistya ing warna. Kasekten iki kababar sepisanan nalika Arimbi sapatemon kalawan Bima.

Pungkasan uripe, Arimbi mati ing satengahing perang Baratayuda amarga mbelani anake, Gathotkaca sing gugur minangka senapati Pandhawa dening Adipati Karna. Wandane Dewi Arimbi iku Cicir. Suwening suwe ing telenging atine Brajadenta tuwuh pikiran kanggo ngrebut dhampar keprabon Pringgadani saengga dheweke bisa nguwasani Pringgadani, ora mung dadi wakile mbakyune. Brajadenta banjur madeg kraman kathi pawadan yen kalungguhan raja iku ora apik yen dipasrahake marang wanita.

Lan miturut Brajadenta, panemune iku kabukten nalika Arimbi sing jumeneng ratu ing Pringgadani kerep ninggalake kuwajibane amarga kudu ngampingi Bima, sisihane, sing dedunung ing Jodhipati. Madeg kramane Brajadenta antuk panyengkuyung saka adhi-adhine, yaiku Brajamusti, Brajalamatan lan Brajawikalpa. Ananging ana uga adhine liyane sing ora sarujuk marang sikep lan tumindake Brajadenta iku.

Adhi-adhine sing ora sarujuk nalika Brajadenta nglairake sikepe arep madeg kraman marang Arimbi yaiku Prabakeswa lan Kala Bendana. Wusana pangramane Brajadenya kasil ditindhes dening Gathotkaca, anake Dewi Arimbi lan Bima. Sabanjure Gathotkaca sinengkakake ngaluhur jumeneng nata ing Pringgadadi sawise ibune, Dewi Arimbi, masrahake dhewe panguwasane marang Gathotkaca.

Ing lakon Gathotkaca Kembar, Brajadenta kasil sesambungan asmara kalawan Dewi Banowati, prameswarine Prabu Suyudana, raja Astina. Nalika iku Brajadenta nyaru wujud kadidene Gathotkaca.
Wusana Brajadenta mati dening Gathotkaca. Arwahe Brajadenta banjur nyawiji ing ragane Gathotkaca kanthi cara mrasuk ing untune Gathotkaca. Wiwit iku Gathotkaca duwe kasekten saksapaa sing kena cokot untune mesthi mati. Arepa Brajadenya wus nyawiji kalawan ragane Gathotkaca, ananging dheweke bisa urip maneh yen dibutuhake dening Gathotkaca. Lan saben dibutuhake, arwahe Brajadenta bakal mbiyantu apa gawene Gathotkaca. Lan pungkasan uripe, gugur ing palagan Baratayuda babak kaping papat, yaiku Suluhan utawa Gathotkaca Gugur.

CRITO WAYANG BOSO JOWO


Ringkesaning Crita
Ramayana


Prabu Dasarata, ratu Ayodya duwe garwa prameswari aran Dewi Kosalya (Sukasalya) lan garwa selir aran Dewi Kekayi uga Dewi Sumitra. Saka Dewi Kosalya peputra Sri Rama, saka Dewi Kaikeyi (Kekayi) peputra Bharata, lan saka Dewi Sumitra peputra kembar aranLakshmana (Lesmana) lan Satrughna. Sawijining dina, ana resi kang jejuluk RsiWiswamitra njaluk tulung marang Sri Paduka Dasarata supaya mbébasake pertapane saka para raseksa. Rama lan Lakshmana banjur budhal. Ing pertapan iku, Rama lan Laksmana kasil mateni kabeh raseksa. Sawise kasil merjaya mungsuhe, kekarone banjur tumuju negara Mithila (Manthili) saperlu melu sayembara menthang gandéwa. Sok sapa kang menang bakal dadi sisihane putri raja Janaka, ya Dèwi Sinta. Kabeh pasarta wus siaga lan siji mbaka siji nuduhake kadigdayane menthang langkap gandéwa. Ora ana kang kasil menthangake gandéwa mau kajaba amung Sri Rama.  Sawise Rama kadhaupake, Sinta banjur kaboyong bali menyang Ayodya didherekake Laksmana.
Ing Ayodya, Rama bakal diangkat dadi ratu pinangka pembarep gantining Dasarata. Ananging Kekayi, garwa selir prabu Dasarata nagih janji. Nalika sadurunge dipundhut garwa, Kekayi duwe panyuwunan yen peputra lanang mengkone bakal jumeneng nata Ayodya. Kanthi abot, Dasarata ngabulake panyuwune Kekayi awit biyèn pancèn naté janji mangkono. Saka pokal culikane Kekayi, Rama wurung dadi ratu, malah kudu nglakoni ukuman (dibuwang) ing alas Dhandhaka 13 taun suwéné. Rama, Sinta, lan Laksmana banjur ngumbara nilar kedhaton. Marga nggrantes, ora suwe prabu Dasarata banjur séda. Barata rumangsa ora pantes dadi ratu. Dheweke banjur nggoleki Sri Rama, nyuwun supaya Rama kersa kondur lan jumeneng nata Ayodya. Ananging Rama nampik amarga jejering satriya ora bakal cidra ing janji sumadya nampa ukum. Barata didhawuhi Rama supaya jumeneng nata sawetara, minangka sulihe Raden Rama. Rama banjur  medhar piwulang Asthabrata (astha = wolu, brata = laku) pinangka garan jejering ratu kudu ngugemi lakuning/watak utama kang cacahe ana wolu. Rama uga paring simbolis awujud trompah (basa Sansekreta: p?duka) marang Barata pinangka tandha bukti yen dhèwèké iku mung saderma wakil. Barata banjur jumeneng nata kanthi nganggo tlumpahe Raden Rama.
Ing alas Dhandhaka, ana raseksi aran Surpanakha (Sarpakenaka) kasengsem marang Laksmana. Kanggo ngrayu Lakshmana, Surpanakha banjur mémba dadi wanodya ayu. Ananging Lakshmana ora mempan kagodha, malah irunge Surpanakha kairis. Surpanakha nepsu banjur pradul marang kangmasé (sang Rahwana/Dasamuka) lan mbujuk supaya nyulik garwané Rama kang ayu rupa. Dhasar Rahwana karem marang wanodya ayu, mula sang Rawana banjur ndhawuhi raseksa Kala Marica supaya nyulik Sinta. Marica banjur mémba dadi kidang emas kang éndah. Sinta kasengsem banjur nyuwun supaya mbebedhag kidang emas iku. Rama budhal dhewe ninggal Sinta lan Laksmana. Si kidang emas gesit banget, ora bisa kacekel. Wusanané, Sri Rama anyel banjur nglepasaké panah. Si kidang emas njerit kelaran lan mati, owah malih raseksa. Krungu panjeriting wong kang kelaran, Sinta banjur ngutus Lakshmana supaya nggoleki Rama. Laksmana ora gelem budhal amarga kajibah njaga Sinta. Sawisé ditudhuh yen Lakshmana arep ngarah dhèwèké, Lakshmana banjur budhal nggolèki Rama lan ngrajah Sinta supaya adoh saka godha rencana. Sawisé Sinta dhèwèkan, Rahwana banjur teka. Kanthi mémba dadi resi kang njejaluk jampi, Rahwana kasil nyulik Sinta.
Jeriting Sinta keprungu déning peksi sang Jatayu kang naté dadi réncange prabu Dasarata. Kanthi niat becik, Jatayu nulungi Sinta. Amarga Rahwana luwih sekti, Jatayu kalah. Jatayu kang sekarat isih bisa atur warta marang Rama lan Laksmana, yen Sinta kagawa menyang Alengka, kedhatoné sang Rahwana. Rama lan Laksmana banjur nglari ilangé Dèwi Sinta. dhumateng ing kedhatonipun Rahwana. Ing sajroning alas, Rama kapanggih ratu Kiskindha awujud wanara, ya Sugriwa kang sambat njaluk pitulungan marga rumangsa bojoné (Dèwi Tara) direbut déning seduluré (Subali). Rama saguh mbiyantu, jer mengko uga gelem sabiyantu perang lawan Rahwana. Embuh kang bener kang endi, nanging jejering satriya, Rama ora kena cidra ing janji. Rama kasil merjaya Subali. Sugriwa banjur sumadya nulungi sang Rama kanthi prajurit wanara lan pitulungané patih Anoman (Hanuman). Anoman kautus Rama pinangka dhutané Sri Rama budhal menyang Alengka ngaturaké warta lan kalpika marang Sinta.
Ing kaputrèn Alengka, Sinta dilipur déning Trijatha. Kanthi meneng-meneng, Anoman kasil mlebu ing Alengka lan kapanggih Dèwi Sinta. Dumadakan konangan Indrajit (putrané ahwana). Anoman kecekel Rahwana, banjur diobong. Dhasar wanara sekti, Anoman banjur ngobrak-abrik lan ngobong Alengka. Anoman bali lan ngaturaké warta marang Rama. Kanthi prajurit lan kasektèné, Rama kasil nambak samudra (bendungan Situbanda) kanggo dalan ngrubuhaké Alengka. Ing wektu iku, seduluré Rahwana aran Kumbakarna lan Gunawan Wibisana kadhawuhan mbiyantu mbéla Rahwana. Kumbakarna ora sarujuk marang Rahwana. Marga wanita, Rahwana ngorbanaké negara memungsuhan lawan Rama. Kumbakarna trima lunga tapa, déné Wibisana lunga saka Alengka gabung melu Rama. Perang gedhé dumadi, prajurit raseksa lawan wanara. Indrajit pinangka senopatining perang kaperjaya déning Lakshmana. Kumbakarna dipeksa mbadharaké tapané supaya mbiyantu Rahwana. Kumbakarna saguh, dudu mbéla Rahwana, nanging negara wutah getihé. Rama nglepasaké panah Guwawijaya, Kumbakarna tiwas katugel-tugel dening panah sekti. Rahwana maju ngadhepi mungsuh. Rama bisa ngalahaké Rahwana. Nalika Rahwana kena panah Guwawijaya, Rahwana banjur dibruki gunung dèning Anoman. Alengka bedhah lan Wibisana kajumenengaké dadi ratu ing Alengka. Sinta dijak kondur lan urip bebarengan klawan Rama. Nanging, ing lakon Sinta Obong, Sinta kauji kasuciané déning Rama sadurungé nunggal marang Rama.

CERITA WAYANG BOSO JOWO



SUMANTRI NGENGER




      Ing pertapan Jatisrana, ana pandhita aran Begawan Suwandhagni. Sang Begawan nduwe anak loro lanang kabeh aran Bambang Sumantri lan Raden Sukasrana. Bambang Sumantri wujude satriya bagus, dene Raden Sukasrana wujude buta bajang utawa buta cebol sing nggilani. Sanajan rupane nggilani nanging Bambang Sumantri tresna banget marang adhine. Samono uga Raden Sukasrana.
      Nalika Sumantri wis diwasa, Begawan Suwandhagni ngendika supaya Sumantri ngenger utawa suwita menyang Negara Maespati. Sumantri sendika dhawuh. Lakune didherekake punakawan papat Semar, Gareng, Petruk lan Bagong. Begawan Suwandhagni nitipake sanjata Cakra darbeke Prabu Harjuna Sasrabahu supaya dibalekake.
      Lakune Bambang Sumantri kandheg amarga Raden Sukasrana kepengin melu. Bambang Sumantri banjur ngarih-arih adhine nganti turu. Sawise adhine turu, Bambang Sumantri budhal nilapake adhine menyang Negara Maespati.
      Ing Negara Maespati Sang Prabu Harjuna Sasrabahu lagi ngrembug bab arepe mupu sayembarane Dewi Citrawati ing Negara Magada. Dewi Citrawati nganakake sayembara, sapa sing bisa menehi srah-srahan putri dhomas cacah wolungatus bakal dadi bojone. Nalika lagi padha rembugan katungka sowane Bambang Sumantri. Bambang Sumantri matur arep suwita marang Prabu Harjuna Sasrabahu. Prabu Harjuna Sasrabahu gelem nampa suwitane Sumantri lamun dheweke bisa mupu sayembarane Dewi Citrawati.. Sumantri nyaguhi banjur budhal menyang Negara Magada.
      Ing Negara Magada, wis akeh para raja lan satriya sing ngleboni sayembara. Padha-padha gedhe kekarepane, padha-padha ora gelem ngalahe wasana dadi perang rame. Pungkasane para raja lan satriya kalah kabeh karo Sumantri jalaran dheweke migunakake sanjata Cakra. Para raja telukan padha pasrah putri boyongan nganti cacah wolungatus. Sumantri klakon mboyong Dewi Citrawati kanthi srah-srahan putri dhomas cacah wolungatus.
      Rumangsa bisa ngalahake ratu sewu negara, Sumantri dadi gumedhe, umuk, kemaki. Ing batin dheweke rumangsa menangan mula banjur thukul niyate arep nelukake Prabu Harjuna Sasrabahu. “Ratu sewu negara bae padha keyok kabeh karo aku, genea aku ndadak suwita marang Prabu Harjuna Sasrabahu? Kena ngapa ora tak telukake pisan dadi andhahanku?” ngono batine Sumantri kandha. Sumantri banjur nulis surat panantang marang Prabu Harjuna Sasrabahu lan dipasrahake marang patihe Prabu Harjuna Sasrabahu sing ndherekake lakune saka praja Maespati.
      Prabu Harjuna Sasrabahu mung mesem nampa panantang saka Sumantri. Dheweke enggal methukake lakune Sumantri. Sumantri lan Prabu Harjuna Sasrabahu perang rame. Padha sektine, padha terngginase. Perange nganti pirang-pirang dina. Sumantri kekeselen banjur kepengin ngrampungi perange karo Prabu Harjuna Sasrabahu. Dheweke enggal ngetokake sanjata Cakra arep ditamakake marang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sanjata Cakra kuwi sejatine duweke Prabu Harjuna Sasrabahu. Nalika lair Prabu Harjuna Sasrabahu wis nggawa sanjata Cakra, amarga dheweke sejatine titisane Bathara Wisnu. Nalika smana sanjata Cakra disilih pamane, Begawan Suwandhagni.
      Weruh sanjata Cakra ing tangane Sumantri, sakala Prabu Harjuna Sasrabahu nesu. Prabu Harjuna Sasrabahu triwikrama utawa malih dadi buta gedhene sagunung. Sanjata Cakra disaut banjur diuntal. Buta ngamuk gereng-gereng arep ngremuk Sumantri sing kemaki. “Sumantri, kowe satriya picek, watekmu ala, melik barange liyan. Satriya wingi sore kemaki wani nantang Ratu Gustine. Tak remet pisan remuk kowe Sumantri!” Weruh Bathara Wisnu nesu, Sumantri ndheprok, lemes ora duwe daya. Nalika Sumantri disaut Brahala, Bathara Narada tumurun ngarcapada nyapih satriya loro. Buta lilih badhar dadi Prabu Harjuna Sasrabahu.
      Sumantri banjur ditundhung lunga. Pasuwitane bisa ditampa maneh menawa dheweke bisa muter utawa mindhah Taman Siwedari menyang Negara Maespati. Taman Sriwedari kuwi taman ing kahyangan Nguntara Segara, kahyangane Bathara Wisnu. Sumantri sing wis ilang kasektene amarga koncatan sanjata Cakra banjur klunuh-klunuh lunga saparan-paran, karepe arep wadul bapake, Begawan Suwandhagni. Lakune Sumantri kepethuk Raden Sukasrana sing nyusul lungane. Sumantri nyritakake kabeh lelakone marang Sukasrana. Sukasrana mesem krungu critane Sumantri. “nek mung utel aman we, ampang akang,” kandhane Sukasrana karo ngguyu ngakak.“Tenan, Yayi? Kowe bisa muter Taman Sriwedari?” kandhane Sumantri.
“Isoh ae, Akang. Uwi ampang!”
“Adhiku, Dhi Sukasrana. Tulungana aku ya, Dhi!” kandhane Sumantri memelas.
“Aku isoh utel aman Iwedali ning ana alate, Akang.”
“Apa syarate, Dhi?”
“Aku engen elu owe, Akang. Aku elu uwita Abu Aluna Asa.”
“Kowe kepengin melu aku suwita Prabu Harjunasasra?”
“Iya, Akang.”
“Iya, Dhi. Angger si Adhi bisa muter Taman Sriwedari mesthi tak ajak suwita menyang Maespati.”
“Enan, Kang? Owe anji Kang? Owe ola apusi?”
“Iya Dhi, pun kakang janji ora bakal ngapusi!”
“Yoh, Akang. Entenana edhela ya?”
        Sukasrana banjur muja semedi. Sanajan rupane ala nanging gedhe prihatine. Sedhela wae taman Sriwedari wis pindhah menyang alun-alun keraton Maespati, gawe gegere wong sanagara. Sawise klakon muter Taman Sriwedari, Sumantri ditampa suwita ing Negara Maespati dadi patih, aran Patih Suwanda. Sukasrana diajak Sumantri menyang Negara Maespati nanging dipenging ngetok, amarga Sumantri isin duwe adhi wujud buta cebol sing rupane nggilani. Sukasrana dikongkon manggon lan ndhelik ing sajroning taman.
        Nalika Dewi Citrawati ninjo kahanane lan kaendahane Taman Sriwedari, dheweke njerit-jerit kamigilan weruh ana buta bajang ing jero taman. Dewi Citrawati banjur lapuran marang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sang Prabu dhawuh marang Sumantri supaya nyingkirake buta bajang. Sumantri sing wis nggraita menawa buta sing dikarepake kuwi adhine, Sukasrana, banjur budhal mlebu taman.
        Tekan ing jero taman, Sumantri nesu-nesu ngunek-ngunekake adhine sing medeni Dewi Citrawati. Sukasrana dikongkon bali menyang pertapan. Sukasrana ora gelem amarga wis dijanjeni dening Sumantri arep diajak suwita ing Negara Maespati. Sumantri gregeten. Sukasrana diagar-agari panah dikongkon bali. Sukasrana tetep ora gelem bali malah nyedhak nagih janjine Sumantri. Nganti suwe anggone eyel-eyelan, pungkasane panah mrucut saka tangane Sumantri lan nancep ing dhadhane Sukasrana. Sukasrana mati. Kuwandane ilang musna, ninggal sepata.
        “Kakang Sumantri! Tega temen kowe karo aku, Kakang. Kowe mblenjani janji, Kakang. Aku ora trima. Utang pati nyaur pati. Eling-elingen mbusuk yen kowe perang tandhing karo ratu buta saka Ngalengka, ing kono tumekane piwalesku, Kakang. Wis kakang, tak enteni ing lawange surga.Sumantri gela, Sumantri sedhih. Nanging kabeh mau barang wis kebacut. Katresnane marang adhine ilang amarga saka drajat lan pangkat. Wateke ala seneng nyidrani janji. Janji bekti marang ratu gustine, diblenjani. Janji nresnani adhine, diblenjani. Janji ngajak adhine, diblenjani. Kabeh mau mung amarga melik drajat pangkat lan kamukten. Besuk patine sumantri dikemah-kemah Prabu Rahwana ratu buta saka Ngalengkadiraja.

Senin, 09 Januari 2012

TARI KUPU-KUPU


Tari Kupu-kupu melukiskan ketentraman dan kedamaian hidup sekelompok kupu-kupu yang dengan riangnya berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain.
Tarian ini merupakan tarian putri masal yang diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an.
Sebuah komposisi garapan karawitan iringan tari kreasi Kupu-Kupu Kuning Angarung smudra yang mendapat  inspirasi dari sejarah kerajaan karangasem tatkala meluaskan daerah kekuasaan ke Pulau Lombok pada tahun 1692. Saat itu Karangasem diperintah oleh tiga raja bersaudara dan seorang diantaranya memimpin ekspidisi mengerahkan pasukan menyebrang selat Lombok dalam empat buah perahu. Perihal ribuan Kupu-kupu Kuning sebagai pelindung dan pemberi arah empat buah perahu yang mengangkut laskar kerajaan Karangasem tersebut kisah taburan Kup-kupu Kuning tersebut sebagai tema sentral penciptaan Karya ini dituang ke dalam barungan gamelan semarandana dengan permainan patet untuk penunjang dinamika dramatik untuk alur tematik. Tariannya dibawakan oleh sembilan penari anak-anak permpuan sebagai tari kelompok dengan tatanan busana iminatif kupu-kupu kuning yang diinovasikan.
Adapun tujuan penggarapan ini, pertama: untuk mendesiminasikan sejarah kerajaan Karangasem; kedua, sebagai informasi kepada masysrakat bahwa peristiwa bersejarah tersebut dapat divisualisasikan kedalam bentuk karya seni tari; dan ketiga, untuk menambah khasanah repertoar tarian anak-anak.
Metode penciptaan melalui tiga tahapan, yakni tahap eksplorasi, improvisasi dan forming. Tahap eksplorasi diawali dengan menelaah buku sumber yang berjudul Kupu-kupu Kuning yang Terbang di Selat Lombok. Membahas secara tuntas ide penggarapan dengan parner penata iringan untuk mendapatkan kesamaan tafsir tentang tema dan wujud garapan. Tahap improvisasi dengan menggali motf-motif sekwen musik sesuai tema dan juga pengembangan ornamentasi yang dapat mendukung tarian. Tahap forming merupakan proses akhir dari penciptaan ini dengan menyusun komposisi musik secara mengalir sehingga terwujud sebuah garapan selaras dengan komposisi tarinya. Tema tarian adalah perlindungan dengan suasana patriotik dalam durasi waktu 13 menit, 10 detik. Proses penggarapan dilakukan di sanggar Seni Citra Usadhi Mengwitani Badung. Dengan menggunakan seperangkat barungan gamelan Semarandana, lebih memberi peluang terhadap kemungkinan permainan suasana, karena dalam gamelan tersebut dimungkikan untuk bermain patet lebih banyak.
Harapan penata, mudah-mudahan karya cipta yang sederhana ini dapat berkembang sebagai tarian anak-anak dimasa-masa mendatang.

TARI DRIASMARA


1. Tema Tari Driasmara
Tari driasmara merupakan salah satu bentuk tari pasangan yang ditarikan oleh seorang penari putra dan putri, tari driasmara bertemakan langen asmara atau percintaan antara Panji Asmara Bangun dengan Dewi Sekartaji. Tari ini disusun oleh Sunarno Purwolelono pada tahun 1976. Tahun1980 tari ini disusun kembali oleh Wahyu Santosa Prabowo, Nora Kustantina Dewi dibantu oleh Rusini untuk penataran Pamong Kesenian se-Jawa Tengah di PKJT Sasono Mulyo Baluwarti Surakarta. Adegan/tarian untuk Prabu Kelana digarap oleh Sunarno Purwolelana, adegan/tarian panji (alusan) digarap oleh Wahyu Santoso Prabowo, dan untuk adegan Candra Kirana digarap oleh Sunanro Purwolelana. Untuk gendhing pengiringnya digarap oleh Martopangrawit, dan pada perekaman digubah oleh Rahayu Supanggah.
Berangkat dari drama tari yang berjudul Panji Asmara, mengambil cerita panji dengan tokoh Prabu Kelana, Candra Kirana, dan Panji Asmara Bangun, berproses di Sasana Mulyo, adapun penarinya adalah Sunarno Purwolelono sebagai Prabu Kelana, Wahyu Santoso Prabowo sebagai Panji Asmara Bangun dan Utami Retno Asih sebagai Candra Kirananya. Drama tari tersebut dipentaskan di acara pernikahan Sal Mugiyanto. Dari drama tari tersebut dipethil/ diambil adegan Candra Kirana dan Panji Asmara Bangun (adegan pasihan/percintaan antara Candra Kirana dan Panji Asmara), dari adegan tersebut jadilah tari pasihan. Setelah tersusun menjadi tari pasihan tokoh Panji dan Candra Kirana dihilangkan (tidak harus menceritakan Panji Asmara Bangun dan Candra Kirana).
Driasmara berasal dari kata driya yang bearti hati dan asmara yang berarti asmara, driasmara dimaksudkan hati yang sedang dilanda asmara. Rasa yang muncul/ terkandung dari tariDriasmara yaitu romantis, penuh kasih, saling mengasihi satu sama lain, cinta kasih. Tari driasmara menggambarkan sepasang kekasih yang sedang memadu cinta, melambangkan suatu hubungan percintaan antara dua orang yang berlawanan jenis. Pada dasarnya tari ini menggambarakan bermacam-macam perasaan manusia yang terlibat dalam suatu percintaan. Sebagai contoh perasaan sayang, kangen selalu ingin bertemu dan bersama dengan kekasihnya serta tidak ingin membaginya dengan orang lain. Rasa kangen dan penggambaraan kerinduan yang mendalam pada tokoh wanita dirasakan pada gendhing kinanthi sandhung. Rasa damai dan tenteram dirasakan pada gendhing sekar macapat mijjil. Kebar memunculkan rasa senang dan mesra yang menggambarkan sepasang kekasih yang bercinta.

2. Gendhing pengiring tari Driasmara
Laras pelog sebagai laras yang dipilih untuk gendhing pengiring tari Driasmara, karena pada dasarnya laras pelog memunculkan rasa, suasana menjadi lebih berasa romantis.
- Ketawang wigena laras pelog pathet nem
è Wigena dapat diartikan, rasa yang muncul saat pertama kali ketemu, ada chemistery, merasakan jatuh cinta.
Ketawang wigena dahulu merupakan garapan dari Bambang Suryo Darmoko, gendhing tersebut di gunakan untuk mengiringi drama tari Ramayana, adegan Dewi Kekayi yang merupakan istri muda Prabu Dasarata menagih janji, dahulu Dasarata berjanji bahwa yang akan menggantikan tahtanya adalah anak yang lahir dari rahim Dewi Kekayi, namun kenyataannya tidak demikian, Dewi Kekayi menggigatkan kepada Prabu Dasarta akan janjinya kala itu.
Buka:
. . . 2 2 1 6 5 1 6 1 2 . 1 6 5
1 2 1 6 2 1 6 3 1216 2 1 6 5
Ngelik :
3 5 3 57 62 4 2 1 5 6 1 . 3 2 6 5
3 5 3 5 3 5 6 1 3 2 6 5 3 5 2 3
1 1 . 6 5 6 7 6 5 4 2 4 2 1 6 5
- Kemuda kembang kapas laras pelog pathet nem
è Kemuda: masa muda, remaja. Kemudu kudu: menanti, dengan penuh harap, seseorag yang selalu dikhayalkannya untuk segera datang. Dapat diartikan sebagai seorang remaja yang mempunyai rasa suka, mulai tertarik pada lawan jenisnya. Melamun, berkhayal, membayangkan hal-hal yang indah-indah, selalu mengharap pujaan hatinya datanng dan berada disisinya.
Kembang kapas / bunga kapas: pohon kapas ketika berbunga, bunganya berwarna putih. Dapat diartikan sebagai sebuah pengharapan, bahwa dari rasa yang timbul diharapkan akan terjalin sebuah cinta yang suci (warna putih identik dengan makna suci), dan tulus.
II 1 5 1 5 2 4 5 4 2 4 2 1 5 1 5 1
5 4 2 1 4 2 1 4 1 2 4 5

- Mijil sekar macapat laras pelog pathet nem
è Penari putra datang, impian remaja putri (dalam gendhing kemuda kembang kapas) terwujud.
- Ketawang kinanthi sandung laras pelog pathet nem
è Rasanya (rasa antara penari putra dan penari putri) bersatu, saling jatuh hati, dua hati telah berpadu, ada keinginan untuk bersanding dan berharap tak ada halangan/kesandung suatu hal tertentu, berjalan mulus, bahagia hingga akhir hayat.
Buka : celuk . . . 6 1 2 6 5 2 3 5 3
. . 3 5 6 5 3 5 2 4 5 4 2 1 6 5
2 2 . 3 1 2 3 2 6 1 2 3 6 5 3 2
- Ktw. driasmara laras pelog pathet nem.
è Mengunakan garap kendang loro (2), menimbulkan/memunculkan rasa sareh, rasa tenang, garapnya agak halus.
Lik:
6 6 . . 6 6 5 6 2 3 2 1 6 5 2 3
. . 3 5 6 1 2 1 3 2 1 2 . 1 2 6
2 3 2 1 6 5 3 2 6 1 2 3 6 5 3 2


Umpak:
è Menggunakan garap kendang ciblon, berkarakter riang, hanya ada suka.
5 6 5 3 6 5 3 2 5 6 5 3 6 5 3 2
6 6 . . 6 6 5 6 2 3 2 1 6 5 2 3
. . 3 5 6 1 2 1 3 2 1 2 . 1 2 6
2 3 2 1 6 5 3 2 6 1 2 3 6 5 3 2


Ketawang Wigena, lrs. Pelog pathet nem
Pundhen ulun dhuh sinuwun
punapa punapada tan ngemuti
marang prasetya paduka
ngebun-ebun enjang
sendhang geng ing pawukiran
leganana raos mami
Jangkring gunung wong angkrangkung
kadita nyawang sireki
kekuncung kang kabeh ana
merak ati
burong toya baya sira
welas asih marang dasih


Artinya:
junjunganku oh sang raja/prabu
apakah paduka tidak ingat
akan janji yang paduka ucapkan
aku sangat mengharapkan
sendang besar di gunung/ telaga
mengharap bahwa paduka sang raja membuat hatiku lega/ menepati janji
jangkirk gunung=gangsir/ jangkrik yangg ada dipegunungan, orang yang tinggi semampai
sireki=kamu, aku tidak bosan-bosannya memandangmu selalu ingin memandangmu
bintang yang berjambul yang berada dihutan/ merak
sebagai wanita yang penampilanya membuat hati tertarik/menarik hati
burong toya=bintang yang ada diair, baya sira=apakah engkau
akan memberikan kasih sayang padaku
Sekar macapat mijil lrs.pl.pt.nem
Dhuh mas mirah
adiku wong kuning
cahyane mancorong
gandhes luwes kewes wicarane
dhuh kakang paduka
kawula sayekti bekti marang kakung

Arsip Blog

Entri Populer